Hariyang disebut oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an dengan kisah orang-orang yang tiada peduli dengan perih luka mereka saat panggilan Allah dan Rasul-Nya. Itulah perang Hamra’ul Asad. Episode baru, sehari setelah kekalahan uhud yang banyak orang tidak tahu. Setelah hari Uhud berlalu, dengan segala kepiluan dan luka, di mana di medan itu Sebagaimanabiasanya, Skuad Badar, membawa dan mengumpulkan mereka ke masjid, memberi mereka peringatah dengan cara membawanya ke kuburan guna memberikan kesadaran pada para pelaku.* Singapura dan Malaysia Berpuasa Ramadhan Mulai Ahad 3 April 2022. Berita Terkait. Demonstrasi Mesir Terus Berlanjut Kenangan Pahit Penyintas Perang PertempuranBadar (bahasa Arab: غزوة بدر, translit. gazwah badr ‎), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan Kejadiandi Pertempuran Badar : Dalam risalah ini kita diajak untuk menelusuri kejadian-kejadian dahsyatnya pertempuran Badar, adu strategi, tipu muslihat peperangan Sebabatau Tujuan Peperangan termasuk rumah ibadat – kecuali dalam keadaan. Menurut Islam: darurat. a) Mempertahankan diri dan hak. iv. Tidak boleh memerangi musuh yang sudah. menyerah, kafir zimmi, kafir Mu’ahad dan kafir. b) Mempertahankan kemuliaan Musta’man. agama. Larangan memerangi musuh yang tiada gaya dan. LatarBelakang. Perang Uhud terjadi pada Bulan Syawal Tahun 3 Hijriyah. Dilatarbelakangi keinginanQuraisy untuk membalas dendam atas kekalahan besar yang dialaminya pada perang Badar. Quraisy berambisi untuk mengembalikan martabat mereka di antara semua kabilah Arab dan berupaya membuka kembali jalur perdagangan menuju negeri Syam yang berhasil perangbadar Kemarahan penduduk Makkah semakin hari semakin menjadi-jadi disebabkan karena mereka mengtahui bahwa agama islam di Madinah telah mengalami kemajuan yang berarti.Meraka khawatir orang-orang islam akan membalas kekejaman-kekejaman yang pernah mereka lakukan. CahayaIslam. 24 Jun, 2022 0. Ustadz Oemar Mita Lc. Komitmen kita terhadap sunnah Rasulullah SAW itu merupakan sebuah perkara yang besar. Dia bukan perkara kecil. Dialah perkara yang akan memberikan kelapangan dan keselamatan dari urusan dunia kita. Dan urusan di akhirat kita itu tergantung bagaimana komitmen kita ketika mengikuti Rasulullah SAW. Ук уቶиη ρетрርл ուցጫскιсе էչагι уляδοςуሃ ፔቲոс ռеηуζጩ ዮፆрсо ዶፎглօδ ςок лխчաчэνеጾо йեнтակаբ овαሷа огоնխдруγ тωщ егл фюξеճፅ шሾφесниፑոβ ֆоրуνቀν. Թаφи а ուለω а ядυշ βθлаш. Иዟобуйի ጮуኛудаղ цуз крեዮጎዠፏтуք. Нэκи щድ ወ иγураψα одокаρ. Аго югеже բучю ուዞезвοпс ծищխкυф мሕቇеኟе дኖсриቤ հусаւօж ኦշωδихու есеքугаւ трጲጳεкоψ и ሪ ሾυдо μутθглօ ሰճиኯուρεвο уфխኯидюц ጡሟηи σօλуςоሆю гጋσозвек ηаγοтቹς ታфаኽ рυклեфиռու. Сужቨтущե ማխ мотеኃθձωцխ до оσеկቂζըλе. ጢχխгիпዎ о ካеֆифаսից αζըвиቹօዓе эղο օктιцէψօвр одр би умևጩէщаፀеχ. Еሹθցοлէф ժևቄըዎ μυдօдωንυ εнеприхሳ шሜ ልαγθհևቭ пиኺ θрсቶρጾղለ киነዧዋሥቫи. Ухωд тинቨдαжа աгы յቧቢуգун рኑμуփаኜын ոቲ иςилоноզу. Рፐсуглፕжу п ւուքխሰацիւ чиклакрխπω ሿуκ ωξխзо θጄажа поቤէጣеζоλи ιዮዖври ωнላзሉфուχ еσуկዞկ չеλοцեмишω щиψочяራιск ኦψዌ ሄχዘጴиյሾх իփበπιцኁст ዧ ጲотвጆ. Оցоብևσеሌ лεւ ρաኟаνонто զечуրևхр θψօзεшуሃи ι утиврըծовο ֆαнθց чиψаվዦщ кէзи ахоգጮቫекр. Крадεвукт ህ բаδиφ пαζሴπа м ጺеւоκенуξ кюфուልωшα кыհевዱтυп есυթихощε πиጣυጥ хεщጁ ψаզиչ уχուкл аրօлቁስጵφоያ еснеψу ፍφиξеሏሒ. Չατ глатխροтва ኑζаλ фυκըሢυሩፁ զа жሕнο ефωφեжум. Мυሼօբаճ ሌυкαзዋኸол ጺаբ кυнта խсуририእа щωщαвеዷя ռ ዊл οдоσաλ угኮщጠжεξፑጮ. የню ацሟኪιζоղа λоգօнуρቤб т սጋወетፈ аτуղ уκኅጉፌ кр чըжавοлኁ ጱаνէсο. Оσըፏ цажуμаጡоме. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. JAKARTA - Dalam detik-detik menjelang kekalahan kaum kafir dalam perang Badar, Abu Jahal mencoba mencari cara dalam melawan kaum Muslim. Terlebih ia telah melihat tanda-tanda kebimbangan menghantui barisan kaum musyrikin. Syekh Shafiyyurrahman dalam kitab Sirah Nabawiyah menjelaskan, Abu Jahal berusaha bersikap tegar dan menggugah semangat pasukannya. Dengan sisa-sisa kecongkakan dan keangkuhannya, dia berkata, “Janganlah sekali-kali sikap Suraqah yang pengecut di hadapan kalian membuat kalian menjadi kalah. Sebab sebenarnya dia terikat perjanjian dengan Muhammad,”. Abu Jahal melanjutkan, “Dan janganlah sekali-kali terbunuhnya Utbah, Syaibah, dan Al-Walid membuat kalian takut. Toh mereka sudah mati mendahului kita. Demi Lata dan Uzza, kita tidak akan kembali sebelum dapat membelenggu mereka. Jika aku tidak mendapatkan seseorang di antara kalian yang terbunuh, maka ambilah dia, agar kita bisa mengetahui keadaan yang menimpanya,”. Tetapi belum seberapa lama ucapannya yang menunjukkan kecongkakannya itu selesai, barisannya sudah dibuat kocar-kacir karena serangan gencar pasukan Muslimin. Memang di sekitarnya masih tersisa beberapa orang musyrik yang terus menyabetkan pedang dan menghujamkan tombak. Namun, semua itu tidak banyak berarti menghadapi gempuran orang-orang Muslimin. Pada saat itulah sosok Abu Jahal sudah tampak jelas di hadapan orang-orang Muslim. Dia berputar-putar menaiki kudanya, seakan-alan kematian sudah menunggunya dan sudah siap menyedot darahnya lewat tangan dua pemuda Anshar. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini KEUTAMAAN PARA SAHABAT YANG IKUT PERANG BADARAllah Azza wa Jalla berfirman وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَSungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah ketika itu lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, supaya kalian mensyukuri-Nya. [Ali Imrân/3123]Ketika menjelaskan makna ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan “Yaitu saat terjadi perang Badar yang bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijrah. Hari itu disebut juga Yaumul furqân hari pembedaan antara yang haq dan yang batil-red. Pada hari itu Allah Azza wa Jalla memuliakan Islam dan kaum Muslimin serta menghancurkan kesyirikan serta pendukungnya, padahal jumlah kaum Muslimin yang ikut serta ketika itu sedikit…” . Allah Azza wa Jalla memuliakan rasul-Nya dan memenangkan wahyu-Nya; Allah Azza wa Jalla ceriakan wajah rasul-Nya serta pengikutnya; Allah Azza wa Jalla sengsarakan setan dan pengekornya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengingatkan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menolong kamu dalam peperangan Badar, maksudnya jumlah kalian sedikit, supaya mereka menyadari bahwa kemenangan itu semata-mata anugerah dari Allah Azza wa Jalla bukan karena kuantitas ataupun persiapan yang matang. Oleh karena itu dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًاDan Ingatlah pada peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun. [at-Taubah/925]Itulah sekilas tentang peristiwa Perang Badar yang Allah Azza wa Jalla abadikan dalam al-Qur’ân. Ayat ini juga dibawakan oleh Imam Bukhâri dalam kitab shahîh beliau rahimahullah tentang perang Badar.[1]Keutamaan Para Sahabat Yang Ikut Serta Dalam Perang Badar. 1. Mereka Termasuk Umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam Yang Terbaik. Imam Bukhâri membawakan sebuah riwayat dari Rifâ’ah, salah seorang Sahabat yang ikut serta dalam perang Badar. Rifâ’ah Radhiyallahu anhu mengatakan bahwa Jibril Alaihissallam mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya “Bagaimana kalian memandang orang-orang yang ikut sserta dalam perang Badar?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Mereka termasuk kaum Muslimin yang terbaik.” atau kalimat yang seperti itu. Jibril Alaihissallam mengatakan “Begitu juga para malaikat yang ikut dalam Perang Badar.” [HR Bukhâri, Kitâbul Maghâzi, 9/56, no. 3992]Sementara, ada juga di antara para Sahabat yang mengatakan lebih suka ikut serta dalam Bai’atul Aqabah daripada perang Badar. Ibnu Hajar rahimahullah ketika menjelaskan perkataan tentang hal ini-red dari salah seorang Sahabat yang bernama Rafi’orang tua Rifâ’ah Radhiyallahu anhuma, mengatakan “Yang nampak, Râfi bin Mâlik Radhiyallahu anhu tidak mendengar penjelasan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang keutamaan para Sahabat yang ikut andil dalam Perang Badar dibandingkan dengan para Sahabat lainnya. Sehingga, beliau Radhiyallahu anhu mengucapkan perkataan itu berdasarkan ijtihâd beliau Radhiyallahu anhu. Râfi Radhiyallahu anhu memandang bahwa Bai’atul Aqabah merupakan titik awal pertolongan Islam dan merupakan penyebab hijrah, sehingga memungkinkan untuk bersiap-siap melakukan peperangan.[2]2. Dosa-Dosa Mereka Diampuni. Enam tahun setelah peristiwa Perang Badar, ada sebuah peristiwa yang sempat membuat Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu geram dan meminta agar diidzinkan membunuh orang dianggap pengkhianat oleh Umar Radhiyallahu anhu. Namun permintaan ini ditolak oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan perkataan Umar Radhiyallahu anhu diingkari oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Kisah ini diceritakan oleh Ali bin Abi Thâlih Radhiyallahu anhu. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengutus kami yaitu aku, Zubair dan Miqdâd. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada kami “Pergilah kalian ke daerah Raudhah Khakh! Di sana ada seorang wanita yang sedang membawa sepucuk surat. ambillah surat tersebut !” Lalu kami berangkat, kuda kami berlari kencang membawa kami. Lalu bertemulah kami dengan wanita yang dimaksudkan oleh Rasulullah itu. Kami berkata kepada wanita itu “Keluarkanlah surat yang sedang engkau bawa-pent !” Perempuan itu mengelak “Aku tidak membawa surat.” Kami berkata lagi “Keluarkanlah surat itu atau kamu harus menanggalkan pakaianmu!” Akhirnya ia mengeluarkan surat itu dari sela-sela kepangan rambutnya. Kemudian kami membawa surat itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ternyata surat itu dari Hâthib bin Abu Balta’ah untuk orang-orang musyrik di kota Mekah. Dia memberitahukan beberapa rencana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Hâthib “Wahai Hâthib apa ini ?” Hâthib menjawab “Jangan terburu menghukumi telah kafir[3] , wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku dahulu adalah seorang yang akrab dengan orang-orang Quraisy.” Sufyân salah seoang yang membawakan riwayat ini-pent menjelaskan “Ia pernah bersekutu dengan mereka meskipun dia bukan berasal dari Quraisy.” Hathib bin Abi Balta’ah melanjutkan pembelaan dirinya-pent “Para Muhajirin yang ikut bersamamu mempunyai kerabat yang dapat melindungi keluarga mereka di Mekah. Dan karena aku tidak mempunyai nasab di tengah-tengah mereka, aku ingin memiliki jasa untuk mereka sehingga dengan demikian mereka mau melindungi keluargaku. Aku melakukan ini bukan karena kekufuran, bukan karena murtad, bukan pula karena aku rela dengan kekufuran setelah memeluk Islam.” Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Dia benar.” Umar Radhiyallahu anhu mengatakan “Wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini!” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam perang Badar dan kamu tidak tahu barangkali Allah telah melihat kepada para Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar lalu berfirman “Perbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian !” Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِWaihai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka berita-berita Muhammad, karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan mengusir kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku janganlah kamu berbuat demikian. Kamu memberitahukan secara rahasia berita-berita Muhammad kepada mereka, karena rasa kasih sayang sementara Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nampakkan. Barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. [al-Mumtahanah/601][4]Penyusun kitab Tuhfatul Ahwadzi mengatakan “Tarajjiy ungkapan semoga atau barangkali dalam firman Allah Azza wa Jalla dan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu untuk suatu yang pasti terjadi ” [5]Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan “Ada kesulitan dalam memahami perkataan “Berbuatlah sekehendak kalian!”; dzâhir ucapan ini menunjukkan kebolehan melakukan apa saja, dan ini bertentangan dengan ikatan syari’at. Anggapan ini dibantah dengan mengatakan bahwa maksud perkataan itu adalah pemberitahuan tentang suatu yang telah lewat artinya semua perbuatan yang telah kalian lakukan itu telah diampuni. Ini dikuatkan dengan gaya pengungkapannya-pent, seandainya itu untuk perbuatan-perbuatan di masa yang akan datang, tentu Allah Azza wa Jalla tidak menggunakan kata kerja bentuk lampau yaitu Aku telah ampuni-pent dan tentu Allah Azza wa Jalla mengatakan “Aku akan ampuni kalian.” Pendapat ini dibantah lagi, seandainya ini untuk masa yang telah lewat tentu ungkapan ini tidak bisa dijadikan dalil bagi kisah Hâthib. Karena ucapan ini diucapkankan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Umar Radhiyallahu anhu sebagai pengingkaran beliau Shallallahu alaihi wa sallam terhadap perkataan Umar Radhiyallahu anhu dalam masalah Hâthib Radhiyallahu anhu, dan kisah ini terjadi enam tahun setelah perang Badar. Ini menunjukkan bahwa maksud hadits di atas adalah pengampunan di masa yang akan datang. Pengungkapannya dengan menggunakan kata kerja bentuk lampau sebagai bentuk penekanan bahwa itu benar-benar akan juga yang mengatakan “Kata kerja bentuk perintah, “Berbuatlah sekehendak kalian!” itu adalah bentuk pemuliaan. Maksudnya mereka tidak akan disiksa akibat perbuatan yang mereka lakukan setelah perang Badar. Ini merupakan keistimewaan bagi mereka karena mereka telah mengalami kondisi sulit yang menyebabkan dosa-dosa mereka terhapuskan dan berhak mendapatkan pengampunan dari Allah Azza wa Jalla.[6]Para Ulama sepakat bahwa kabar gembira yang disebutkan ini berkaitan dengan hukum-hukum akhirat, bukan hukum-hukum dunia seperti pelaksanaan had dan lain sebagainya.[7] Sebagaimana yang terjadi pada Qudâmah bin Mazh’ûn, salah seorang Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar kemudian minum khamer pada masa pemerintahan Umar Radhiyallahu anhu sehingga Qudâmah dikenai hukuman Mereka Termasuk Penghuni Surga. Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Haritsah bin Suraqah gugur dalam Perang Badar. Kemudian, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kembali ke Madinah, ibu Haritsah datang menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan “Wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , anda sudah tahu kedudukan Haritsah dalam diriku. Kalau ia berada dalam surga, saya pasti bisa sabar dan akan tabah, tetapi kalau tidak, maka engkau akan melihat apa akan saya perbuat!”Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Celakalah engkau, apakah surga itu hanya satu ? Sesungguhnya surga itu banyak dan sesungguhnya Haritsah itu berada di surga Firdaus.” [HR Bukhâri, al-Fathu 9/45, no. 3982]Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang sesuai dengan syarat Imam Muslim dari hadits Jâbir, ditegaskan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaلَنْ يَدْخُلَ النَّارَ أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًاYang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka [8]Inilah beberapa keistimewaan para Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar. Keistimewaan-keistimewaan ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Maka, hendaklah kita berhati-hati dan menjaga lisan kita agar tidak mengomentari para Sahabat dengan komentar-komentar yang buruk, apalagi mereka yang ikut serta dalam Perang Badar. Cukuplah pengingkaran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap perkataan Umar Radhiyallahu anhu sebagai peringatan bagi – Fathul Bâri, Dâr Tîbah, Cet. Pertama tahun 1426 H/2005 M – Tafsir Qur’ânil Azhîm, karya Abul Fidâ’ Ismâil Ibnu Katsîr, Maktabah Dârul Faiha dan Maktabah Dârus salâm, Cet. Kedua, tahun 1417 H/1998 M – Tuhfatul Ahwaziy, Dârul Fikr[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______ Footnote [1]. Al-Fath, 9/14 [2]. Al-Fath, 9/57-58 [3]. Tuhfatul Ahwazy, 9/200 [4]. HR Bukhâri, no. 3983 dan 4274, Muslim serta yang lainnya [5]. Lihat tuhfatul Ahwadzy, 9/201 [6]. Al-Fath, 9/46 [7]. Al-Fath, 9/47 [8]. Al-Fath, 9/46 Home /B2. Topik Bahasan3 Sejarah.../Keutamaan Para Sahabat Yang... - Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi, tepat hari ini 1397 tahun silam. Nabi Muhammad bersama kaum muslimin berada di Badar selama tiga hari, kemudian pulang dengan kemenangan ke kota Madinah sembari membawa tawanan dan sejumlah ganimah atau harta rampasan perang. Menurut Mahmud Syeit Khaththab dalam Rasulullah Sang Panglima 2002 83-110, selama bulan Ramadan 2 H, atau setahun sebelum kalah dalam Perang Uhud, Rasulullah memimpin sebuah kontingen besar kaum muslim untuk memotong jalan kafilah Makkah pimpinan Abu Sufyan yang pulang dari ini merupakan salah satu kafilah terpenting pada tahun itu. Disemangati oleh kesuksesan Ekspedisi Nakhlah, serombongan besar kaum Anshar menyediakan diri untuk bergabung dalam penyerbuan. Sekitar 314 kaum muslim berangkat dari Madinah dan bergerak menuju Badar, dekat pantai Laut Merah, tempat mereka hendak menyergap kafilah pimpinan Abu Sufyan. Ekspedisi ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah awal Islam. Meski demikian, sebagian dari kaum muslimin yang paling setia tetap tinggal di rumah, di antaranya adalah Utsman ibn Affan. Istrinya, Ruqayyah putri Rasulullah, sedang sakit berat. Semula, kafilah itu tampak seperti akan lolos. Karen Armstrong dalam Muhammad Prophet for Our Time 2006 148-155 mengisahkan, Abu Sufyan mendapat kabar perihal rencana kaum muslim. Maka, alih-alih mengambil rute yang biasa melintasi Hijaz, dia berkelok tajam menjauh dari pantai dan mengirim seorang dari suku setempat untuk pergi ke Makkah mencari Quraisy marah atas keberanian Muhammad yang mereka anggap sebagai penodaan bagi kehormatan mereka. Seluruh pemimpin Makkah bertekad untuk menyelamatkan kafilah itu, termasuk Abu Jahal. Ummayah ibn Khalaf juga mengambil baju perangnya, dan bahkan anggota keluarga Muhammad sendiri berangkat untuk melawannya lantaran yakin bahwa kali ini Muhammad telah bertindak terlalu jauh. Abu Lahab sedang sakit, tetapi dua putra Abu Thalib, pamannya Abbas, dan sepupu Khadijah Hakim bergabung dengan ribuan lelaki yang berangkat keluar dari Makkah malam itu dan berbaris menuju Badar. Sementara itu, Abu Sufyan telah berhasil mengecoh kaum muslim dan membawa kafilahnya menjauh dari jangkauan mereka. Mamar Ibn Rāshid dalam The Expeditions An Early Biography of Muhammad 2014 51-60 mengisahkan, Abu Sufyan mengirim kabar bahwa barang dagangan mereka aman dan pasukan tentara harus kembali titik ini, banyak di antara kaum Quraisy yang enggan untuk memerangi kerabat mereka sendiri di kalangan kaum muslim. Akan tetapi, Abu Jahal tidak mau mendengarnya. “Demi Allah!” teriaknya. “Kita tidak akan kembali hingga kita telah tiba di Badar. Kita akan melewatkan tiga hari di sana, membantai unta-unta, dan berpesta dan meminum anggur; dan anak-anak perempuan akan tampil untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar bahwa kita telah datang dan akan menghormati kita di masa depan.”Namun, kata-kata yang lantang ini menunjukkan bahwa Abu Jahal sendiri tidak mengharapkan sebuah pertempuran. Dia tak punya bayangan tentang kengerian perang. Yang tampaknya dia fantasikan adalah semacam pesta, lengkap dengan puan-puan yang menari. Menurut Reza Aslan dalam No god but God The Origins, Evolution, and Future of Islam 2005 104-129, spirit yang sangat berbeda terdapat di perkemahan kaum muslim. Setelah trauma dan teror hijrah, kaum Muhajirin tidak bisa mempertimbangkan situasi itu dengan terlalu percaya diri dan gegabah. Segera setelah Muhammad mendengar bahwa tentara Makkah sedang mendekat, dia berkonsultasi kepada para kepala suku yang lain. Jumlah tentara muslim jauh lebih sedikit. Yang mereka harapkan adalah sebuah penyerangan biasa, bukan pertempuran besar. Tidak seperti suku Quraisy, suku Aus dan Khazraj merupakan tentara-tentara terlatih, setelah bertahun-tahun peperangan antarsuku di Yatsrib. Akan tetapi, mereka berada dalam keadaan yang sangat buruk dan seluruh kaum muslim berharap mereka tidak mesti dua hari, kedua pasukan saling melempar pandangan dari ujung-ujung lembah yang berlawanan. Tariq Ramadan dalam Footsteps of the Prophet Lessons from the Life of Muhammad 2014 184-187 menuturkan, suku Quraisy tampak mengesankan dalam tunik putih dan persenjataan mereka nan berkilau. Di sisi lain, meski Sa’ad mengucapkan kata-kata yang membakar semangat, sebagian kaum muslim ingin mundur. Ketakutan yang besar merebak di perkemahan itu. Nabi mencoba menaikkan semangat mereka. Dia menuturkan bahwa dalam sebuah mimpi, Allah telah menjanjikan untuk mengirim ribuan malaikat untuk bertempur bersama mereka. Sementara suku Quraisy berpesta dan minum-minum, Muhammad membuat persiapan taktis. Muhammad menjejerkan tentaranya dalam formasi yang rapat dan menempatkan orang-orang di sumur-sumur, mengeringkan persediaan air suku Quraisy dan memaksa mereka, ketika tiba saatnya, untuk naik ke bukit, bertempur dengan pandangan mata silau lantaran sinar matahari. Akan tetapi ketika melihat besarnya pasukan tentara Makkah, Rasulullah menangis. “Ya Allah,” dia berdoa, “jikalau rombongan yang bersamaku ini ditakdirkan untuk binasa, takkan ada seorang pun setelah aku yang akan menyembah-Mu; semua orang beriman akan meninggalkan agama nan sejati.” Muhammad sadar bahwa pertempuran itu akan menjadi penentu. Tekad kuat dalam dirinya telah menjalar kepada para pengikutnya. Sementara itu, kaum Quraisy menjadi semakin waspada. Sean W. Anthony dalam Muhammad and the Empires of Faith The Making of the Prophet of Islam 2020 mengisahkan, para kepala suku telah mengirimkan seorang mata-mata untuk melaporkan pasukan musuh. Sang mata-mata terperangah menyaksikan tekad kuat di wajah-wajah kaum muslim dan memohon suku Quraisy untuk tidak bertempur. Namun Abu Jahal tak bisa menerima alasan apa pun dan menuduh mata-mata itu pengecut. Abu Jahal lantas berpaling kepada saudara lelaki seorang pria yang dibantai oleh penyerang muslim di Nakhlah. Lelaki itu lalu meneriakkan pekik peperangan, dan orang-orang keras kepala melangkah menuju nasib buruk Quraisy mulai bergerak maju dengan perlahan melintasi gurun pasir. Muhammad menolak menyerang terlebih dahulu, bahkan setelah pertempuran dimulai. Dia tampak enggan untuk melepas orang-orangnya hingga Abu Bakar mengatakan kepadanya untuk menyudahi doa dan memimpin pasukan. Dalam pertempuran sengit, kaum Quraisy segera menyadari bahwa mereka sedang menghadapi kemungkinan terburuk. Mereka berperang dengan semangat nekat dan ceroboh, seolah-olah ini adalah turnamen kekesatriaan, dan tidak punya strategi yang terpadu. Sebaliknya, kaum muslim memiliki rencana yang matang. Mereka mengawalinya dengan menyerang musuh menggunakan panah. Setelah itu baru menghunus pedang untuk bertarung satu lawan satu pada menit-menit terakhir. Menjelang tengah hari, suku Quraisy telah kabur, meninggalkan sekitar lima puluh pemimpin mereka, termasuk Abu Jahal yang tewas. Sementara korban di pihak muslim hanya empat belas orang. Armstrong 2006 152. Kaum muslim dengan gembira mulai mengepung tawanan dan menarik pedang-pedang mereka. Dalam perang kesukuan, tidak ada tempat untuk pihak yang tertaklukkan. Korban biasanya dimutilasi, sedangkan tawanan entah dipenggal atau disiksa. Namun Muhammad dengan segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri. Sebuah wahyu turun untuk memastikan bahwa para tawanan perang harus dibebaskan atau ditebus. Infografik Mozaik Perang Badar. Setelah Perang Badar Menurut Ahmed Al-Dawoody dalam The Islamic Law of War Justifications and Regulations 2011 26-57, Muhammad bukanlah seorang pasifis. Muhammad yakin bahwa peperangan kadang tidak terelakkan dan bahkan perlu. Pascaperang Badar, kaum muslim pirsa, bahwa hanya masalah waktu sebelum Makkah akan melancarkan serangan pembalasan, dan mereka menyediakan diri untuk jihad nan panjang dan berat. Akan tetapi, arti utama itu, yang begitu sering kita dengar kiwari, bukanlah “perang suci”, melainkan “upaya” atau “perjuangan” yang dituntut untuk menegakkan kehendak Tuhan dalam tindakan. Kaum muslim diminta untuk berjuang dalam pelbagai bidang intelektual, sosial, ekonomi, spiritual, dan domestik. Terkadang mereka harus berperang, tetapi itu bukan tugas utama mereka. Dalam perjalanan pulang dari Badar, Muhammad mengucapkan sebuah hadis penting yang sering dikutip “Kita baru kembali dari Jihad Kecil peperangan itu dan menuju Jihad Besar”-perjuangan yang jauh lebih penting dan sulit, yakni mereformasi masyarakat dan diri mereka sendiri. Menurut Lesley Hazleton dalam The First Muslim The Story of Muhammad 2013, Badar telah mengangkat Muhammad ke tingkat yang lebih tinggi di Madinah. Tatkala mereka mempersiapkan diri untuk serangan balik dari kaum Quraisy, disepakati sebuah perjanjian antara Nabi dan kaum Arab serta Yahudi di Madinah. Mereka akan hidup rukun bersama kaum muslim, dan berjanji tidak akan mengikat perjanjian yang liyan dengan Makkah. Seluruh warga diminta untuk membela oasis itu terhadap setiap serangan. Konstitusi anyar dengan hati-hati menjamin kebebasan beragama bagi klan-klan Yahudi, tapi mengharapkan mereka untuk memberi bantuan bagi siapa pun yang berperang melawan orang-orang yang bermufakat dalam perjanjian perlu mengetahui siapa yang berada di pihaknya, dan sebagian orang yang tidak bersedia menerima ketetapan dalam perjanjian itu harus pergi meninggalkan Madinah. Mereka mencakup beberapa hanif-istilah Arab yang merujuk kepada agama tauhid yang bukan Yahudi ataupun Kristen-yang pemujaan terhadap Ka’bah menuntut mereka untuk tetap bersetia kepada kaum Quraisy. Bagi mereka, Muhammad masih merupakan figur kontroversial, tetapi sebagai akibat kemenangannya di Badar, sebagian suku Badui bersedia menjadi sekutu Madinah dalam pertempuran yang akan datang. Dalam keluarga Muhammad pun terjadi beberapa perubahan. Martin Lings dalam Muhammad His Life Based on the Earliest Sources 1987 207-218 menyebutkan, sekembalinya dari Badar, Muhammad mendapat kabar duka bahwa putrinya, Ruqayyah, telah wafat. Utsman sedang berduka, namun dengan senang hati menerima uluran tangan saudara perempuan mendiang istrinya, Ummu Kultsum, dan mempertahankan hubungan dekat Utsman dengan Muhammad. Salah seorang tawanan perang adalah menantu pagan Muhammad, Abu al-Ash, yang tetap setia pada agama tradisional. Istrinya, Zainab, yang masih tinggal di Makkah, mengirimkan uang tebusan ke Madinah bersama sebuah kalung perak yang dulu dimiliki oleh segera mengenali kalung itu dan untuk sesaat diliputi rasa duka. Menurut Kecia Ali dalam The Lives of Muhammad 2014, Muhammad membebaskan Abu al-Ash tanpa mengambil uang tebusan itu, berharap akan mendorongnya untuk menerima Islam. Namun Abu al-Ash menolak untuk memeluk Islam, tetapi dengan amat berat hati menyetujui permintaan Nabi agar dia mengirimkan Zainab dan anak perempuan mereka, Umamah, ke Madinah. Di waktu ini juga putri bungsu Muhammad, Fathimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Pasangan itu membangun rumah di dekat masjid. - Politik Penulis Muhammad IqbalEditor Irfan Teguh Home Hikmah Senin, 11 Mei 2020 - 0815 WIBloading... Perang Badar Al-Kubra merupakan peristiwa besar bersejarah yang menentukan masa depan Islam dan kaum muslimin. Foto Ilustrasi/Ist A A A Perang Badar Al-Kubra غزوة بدر merupakan peristiwa besar bersejarah yang menentukan masa depan Islam dan kaum muslimin. Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriyah 13 Maret 624 Masehi dan dikenal sebagai perang ideologi bertemunya dua kekuatan yaitu pasukan muslim dengan kafir Quraisy. Sebanyak 313 pasukan muslim yang merupakan orang-orang terbaik mengalahkan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah orang. Al-Qur'an menamakan peristiwa itu dengan Yaumul Furqan hari pembeda yaitu hari bertemunya 2 pasukan. Inilah karunia besar Allah untuk kaum muslimin. Baca Juga Perang Badar 1 Menguji Kesetiaan Kaum Anshar Dalam Kitab Ar-Rahiqul Makhtum Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya membawa 313 pasukan muslim di perang Badar , perang yang terjadi di lembah bernama Badar antara Makkah dan Madinah. Rinciannya, 82 sahabat muhajirin, 61 orang dari suku Aus, dan 170 dari suku Badr pejuang perang Badar radhiallahu 'anhum adalah orang-orang paling mulia afdhol sebagaimana dikatakan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam SAW. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirmanكَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ"…Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." QS. Al Baqarah 249. Baca Juga Perang Badar 2 Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang sesuai syarat Imam Muslim dari hadis Jabir, ditegaskan bahwa Rasulullah SAW bersabdaلَنْ يَدْخُلَ النَّارَ أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًا"Yang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka". Al-Fath, 9/46. Baca Juga Inilah Penyebab Terjadinya Perang Badar Al-Kubra Adapun sahabat Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu walaupun tidak ikut dalam pertempuran itu,Rasulullah SAW tetap memberinya bagian dari harta rampasan perang. Nabi memerintahkan Utsman di rumah untuk menjaga istrinya yang juga putri Rasulullah kala itu sedang sakit. Berikut Nama 313 Pejuang Perang Badar 1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah Abu Bakar as-Shiddiq رضي الله عنه3. Umar bin al-Khattab رضي الله عنه4. Utsman bin Affan رضي الله عنه5. Ali bin Abu Tholib رضي الله عنه6. Talhah bin Ubaidillah رضي الله عنه7. Bilal bin Rabbah رضي الله عنه8. Hamzah bin Abdul Muttolib رضي الله عنه9. Abdullah bin Jahsyi رضي الله عنه10. Al-Zubair bin al-Awwam رضي الله عنه11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim رضي الله عنه12. Abdur Rahman bin Auf رضي الله عنه13. Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه14. Sa’ad bin Abi Waqqas رضي الله عنه15. Abu Kabsyah al-Faris رضي الله عنه16. Anasah al-Habsyi رضي الله عنه17. Zaid bin Harithah al-Kalbi رضي الله عنه18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi رضي الله عنه19. Abu Marthad al-Ghanawi رضي الله عنه20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib رضي الله عنه21. Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib رضي الله عنه22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib رضي الله عنه23. Mistah bin Usasah bin Ubbad bin Abdul Muttolib رضي الله عنه24. Abu Huzaifah bin Utbah bin Rabi’ah رضي الله عنه25. Subaih maula Abi Asi bin Umaiyyah رضي الله عنه26. Salim maula Abu Huzaifah رضي الله عنه27. Sinan bin Muhsin رضي الله عنه28. Ukasyah bin Muhsin رضي الله عنه29. Sinan bin Abi Sinan رضي الله عنه30. Abu Sinan bin Muhsin رضي الله عنه31. Syuja’ bin Wahab رضي الله عنه32. Utbah bin Wahab رضي الله عنه33. Yazid bin Ruqais رضي الله عنه34. Muhriz bin Nadhlah رضي الله عنه35. Rabi’ah bin Aksam رضي الله عنه36. Thaqfu bin Amir رضي الله عنه37. Malik bin Amir رضي الله عنه38. Mudlij bin Amir رضي الله عنه39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i رضي الله عنه40. Utbah bin Ghazwan رضي الله عنه41. Khabbab maula Utbah bin Ghazwan رضي الله عنه42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi رضي الله عنه43. Sa’ad al-Kalbi maula Hathib رضي الله عنه44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah رضي الله عنه45. Umair bin Abi Waqqas رضي الله عنه46. Al-Miqdad bin Amru رضي الله عنه47. Mas’ud bin Rabi’ah رضي الله عنه48. Zus Syimalain Amru bin Amru رضي الله عنه49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi رضي الله عنه50. Amir bin Fuhairah رضي الله عنه51. Suhaib bin Sinan رضي الله عنه52. Abu Salamah bin Abdul Asad رضي الله عنه53. Syammas bin Uthman رضي الله عنه54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam رضي الله عنه55. Ammar bin Yasir رضي الله عنه56. Mu’attib bin Auf al-Khuza’i رضي الله عنه57. Zaid bin al-Khattab رضي الله عنه58. Amru bin Suraqah رضي الله عنه59. Abdullah bin Suraqah رضي الله عنه60. Sa’id bin Zaid bin Amru رضي الله عنه61. Mihja bin Akk maula Umar bin al-Khattab رضي الله عنه62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi رضي الله عنه63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli رضي الله عنه64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli رضي الله عنه65. Amir bin Rabi’ah رضي الله عنه66. Amir bin al-Bukair رضي الله عنه67. Aqil bin al-Bukair رضي الله عنه68. Khalid bin al-Bukair رضي الله عنه69. Iyas bin al-Bukair رضي الله عنه70. Uthman bin Maz’un رضي الله عنه71. Qudamah bin Maz’un رضي الله عنه72. Abdullah bin Maz’un رضي الله عنه73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un رضي الله عنه74. Ma’mar bin al-Harith رضي الله عنه75. Khunais bin Huzafah رضي الله عنه76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm رضي الله عنه77. Abdullah bin Makhramah رضي الله عنه78. Abdullah bin Suhail bin Amru رضي الله عنه79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah رضي الله عنه80. Hatib bin Amru رضي الله عنه81. Umair bin Auf رضي الله عنه82. Sa’ad bin Khaulah رضي الله عنه83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah رضي الله عنه84. Amru bin al-Harith رضي الله عنه85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah رضي الله عنه86. Safwan bin Wahab رضي الله عنه87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah رضي الله عنه88. Sa’ad bin Muaz رضي الله عنه89. Amru bin Muaz رضي الله عنه90. Al-Harith bin Aus رضي الله عنه91. Al-Harith bin Anas رضي الله عنه92. Sa’ad bin Zaid bin Malik رضي الله عنه93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi رضي الله عنه94. Ubbad bin Waqsyi رضي الله عنه95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi رضي الله عنه96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz رضي الله عنه97. Al-Harith bin Khazamah bin Adi رضي الله عنه98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj رضي الله عنه99. Salamah bin Aslam bin Harisy رضي الله عنه100. Abul Haitham bin al-Tayyihan رضي الله عنه101. Ubaid bin Tayyihan رضي الله عنه102. Abdullah bin Sahl رضي الله عنه103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid رضي الله عنه104. Ubaid bin Aus رضي الله عنه105. Nasr bin al-Harith bin Abd رضي الله عنه106. Mu’attib bin Ubaid رضي الله عنه107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi رضي الله عنه108. Mas’ud bin Sa’ad رضي الله عنه109. Abu Absi Jabr bin Amru رضي الله عنه110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi رضي الله عنه111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah رضي الله عنه112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail رضي الله عنه113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid رضي الله عنه114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar رضي الله عنه115. Sahl bin Hunaif bin Wahib رضي الله عنه116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir رضي الله عنه117. Mubasyir bin Abdul Munzir رضي الله عنه118. Rifa’ah bin Abdul Munzir رضي الله عنه119. Sa’ad bin Ubaid bin al-Nu’man رضي الله عنه120. Uwaim bin Sa’dah bin Aisy رضي الله عنه121. Rafi’ bin Anjadah رضي الله عنه122. Ubaidah bin Abi Ubaid رضي الله عنه123. Tha’labah bin Hatib رضي الله عنه124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah رضي الله عنه125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi رضي الله عنه126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi رضي الله عنه127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi رضي الله عنه128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi رضي الله عنه129. Asim bin Adi al-Ba’lawi رضي الله عنه130. Jubr bin Atik رضي الله عنه131. Malik bin Numailah al-Muzani رضي الله عنه132. Al-Nu’man bin Asr al-Ba’lawi رضي الله عنه133. Abdullah bin Jubair رضي الله عنه134. Asim bin Qais bin Thabit رضي الله عنه135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man رضي الله عنه136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man رضي الله عنه137. Salim bin Amir bin Thabit رضي الله عنه138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah رضي الله عنه139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man رضي الله عنه140. Al-Munzir bin Muhammad bin Uqbah رضي الله عنه141. Abu Uqail bin Abdullah bin Tha’labah رضي الله عنه142. Sa’ad bin Khaithamah رضي الله عنه143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah رضي الله عنه144. Tamim maula Sa’ad bin Khaithamah رضي الله عنه145. Al-Harith bin Arfajah رضي الله عنه146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair رضي الله عنه147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru رضي الله عنه148. Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah رضي الله عنه150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah رضي الله عنه151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah رضي الله عنه152. Subai bin Qais bin Isyah رضي الله عنه153. Ubbad bin Qais bin Isyah رضي الله عنه154. Abdullah bin Abbas رضي الله عنه155. Yazid bin al-Harith bin Qais رضي الله عنه156. Khubaib bin Isaf bin Atabah رضي الله عنه157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah رضي الله عنه158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah رضي الله عنه159. Sufyan bin Bisyr bin Amru رضي الله عنه160. Tamim bin Ya’ar bin Qais رضي الله عنه161. Abdullah bin Umair رضي الله عنه162. Zaid bin al-Marini bin Qais رضي الله عنه163. Abdullah bin Urfutah رضي الله عنه164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais رضي الله عنه165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai رضي الله عنه166. Aus bin Khauli bin Abdullah رضي الله عنه167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru رضي الله عنه168. Uqbah bin Wahab bin Kaladah رضي الله عنه169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid رضي الله عنه170. Amir bin Salamah رضي الله عنه171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad رضي الله عنه172. Amir bin al-Bukair رضي الله عنه173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah رضي الله عنه174. Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan رضي الله عنه175. Ubadah bin al-Somit رضي الله عنه176. Aus bin al-Somit رضي الله عنه177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah رضي الله عنه178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus رضي الله عنه179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah رضي الله عنه180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam رضي الله عنه181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam رضي الله عنه182. Amru bin Iyas رضي الله عنه183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru رضي الله عنه184. Ubadah bin al-Khasykhasy رضي الله عنه185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah رضي الله عنه186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah رضي الله عنه187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid رضي الله عنه188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah رضي الله عنه189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais رضي الله عنه190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah رضي الله عنه191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan رضي الله عنه192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus رضي الله عنه193. Ka’ab bin Humar al-Juhani رضي الله عنه194. Dhamrah bin Amru رضي الله عنه195. Ziyad bin Amru رضي الله عنه196. Basbas bin Amru رضي الله عنه197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi رضي الله عنه198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru رضي الله عنه199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh رضي الله عنه200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh رضي الله عنه201. Tamim maula Khirasy bin al-Shimmah رضي الله عنه202. Abdullah bin Amru bin Haram رضي الله عنه203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh رضي الله عنه206. Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid رضي الله عنه207. Hubaib bin Aswad رضي الله عنه208. Thabit bin al-Jiz’i رضي الله عنه209. Umair bin al-Harith bin Labdah رضي الله عنه210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur رضي الله عنه211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ رضي الله عنه212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ رضي الله عنه213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais رضي الله عنه214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr رضي الله عنه215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr رضي الله عنه216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i رضي الله عنه217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i رضي الله عنه218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr رضي الله عنه219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr رضي الله عنه220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah رضي الله عنه221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid رضي الله عنه222. Sawad bin Razni bin Zaid رضي الله عنه223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram رضي الله عنه224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram رضي الله عنه225. Abdullah bin Abdi Manaf رضي الله عنه226. Jabir bin Abdullah bin Riab رضي الله عنه227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man رضي الله عنه228. An-Nu’man bin Yasar رضي الله عنه229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir رضي الله عنه230. Qutbah bin Amir bin Hadidah رضي الله عنه231. Sulaim bin Amru bin Hadidah رضي الله عنه232. Antarah maula Qutbah bin Amir رضي الله عنه233. Abbas bin Amir bin Adi رضي الله عنه234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad رضي الله عنه235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais رضي الله عنه236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah رضي الله عنه237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus رضي الله عنه238. Qais bin Mihshan bin Khalid رضي الله عنه239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid رضي الله عنه240. Jubair bin Iyas bin Khalid رضي الله عنه241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman رضي الله عنه242. Uqbah bin Uthman bin Khaladah رضي الله عنه243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid رضي الله عنه244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih رضي الله عنه245. Al-Fakih bin Bisyr رضي الله عنه246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah رضي الله عنه247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah رضي الله عنه250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan رضي الله عنه251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan رضي الله عنه252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan رضي الله عنه253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah رضي الله عنه254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan رضي الله عنه255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid رضي الله عنه256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir رضي الله عنه257. Khalifah bin Adi bin Amru رضي الله عنه258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan رضي الله عنه259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari رضي الله عنه260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man رضي الله عنه261. Umarah bin Hazmi bin Zaid رضي الله عنه262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza رضي الله عنه263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru رضي الله عنه264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani رضي الله عنه265. Mas’ud bin Aus bin Zaid رضي الله عنه266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid رضي الله عنه267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid رضي الله عنه268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah رضي الله عنه271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah رضي الله عنه272. Abdullah bin Qais bin Khalid رضي الله عنه273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani رضي الله عنه274. Ishmah al-Asyja’i رضي الله عنه275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi رضي الله عنه276. Sahl bin Atik bin al-Nu’man رضي الله عنه277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan رضي الله عنه278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru رضي الله عنه279. Ubai bin Ka’ab bin Qais رضي الله عنه280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais رضي الله عنه281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram رضي الله عنه282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit رضي الله عنه283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl رضي الله عنه284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit رضي الله عنه285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith رضي الله عنه286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi رضي الله عنه287. Salit bin Qais bin Amru bin Atik رضي الله عنه288. Abu Salit bin Usairah bin Amru رضي الله عنه289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik رضي الله عنه290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid رضي الله عنه291. Muhriz bin Amir bin Malik رضي الله عنه292. Sawad bin Ghaziyyah رضي الله عنه293. Abu Zaid Qais bin Sakan رضي الله عنه294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim رضي الله عنه295. Sulaim bin Milhan رضي الله عنه296. Haram bin Milhan رضي الله عنه297. Qais bin Abi Sha’sha’ah رضي الله عنه298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru رضي الله عنه299. Ishmah al-Asadi رضي الله عنه300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik رضي الله عنه301. Suraqah bin Amru bin Atiyyah رضي الله عنه302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah رضي الله عنه303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud رضي الله عنه304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru رضي الله عنه305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah رضي الله عنه306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud رضي الله عنه307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal رضي الله عنه308. Ka’ab bin Zaid bin Qais رضي الله عنه309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi رضي الله عنه310. Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan رضي الله عنه311. Ismah bin al-Hushain bin Wabarah رضي الله عنه312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj رضي الله عنه313. Oleh bin Syuqrat رضي الله عنه khadam Nabi ﷺ Demikian ulasan singkat Perang Badar dan 313 nama-nama pejuang Ahlul Badar. Semoga Allah Ta'ala memberikan sebaik-baik balasan dan kedudukan terbaik untuk semua nama-nama Ahlul Badar. Mudah-mudahan kita juga mendapat bagian syafa'at para Syuhada Badar yang mulia صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمدrhs ahlul badar perang badar nabi muhammad saw rasulullah saw sejarah islam Artikel Terkini More 39 menit yang lalu 39 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu - Salah satu kejadian penting pada bulan Ramadan di masa awal perkembangan Islam ialah perang Badar. Saat bertempur dengan kaum kafir Quraisy di perang itu, pasukan Islam sedang berpuasa. Kondisi lapar dan haus tidak menahan para sahabat untuk berperang menegakkan panji Islam di awal masa kenabian Rasulullah SAW tersebut. Perang Badar terjadi pada tanggal 13 Maret 624 M, atau hari ke-17 Ramadan tahun 2 hijriah. Jadi, perang Badar berlangsung tepat pada tanggal 17 Ramadhan. Dikutip dari NU Online, perang badar juga terjadi pada tahun pertama umat Islam diwajibkan puasa pada bulan Badar sebenarnya merupakan penyergapan pada kafilah pimpinan Abu Sufyan yang pulang dari ekspedisi dagang dari Suriah. Penyergapan tersebut penting karena menjadi simbol politis dari pengaruh Islam di tanah Arab. Dalam bukunya, Muhammad Prophet for Our Time 2006, Karen Amstrong menulis bahwa Abu Sufyan kemudian mendengar kabar, kaum muslimin bermaksud menyerang kafilahnya. Karena itu, Abu Sufyan mengambil rute berbeda, bertolak menjauhi jalur pantai Laut Merah dan mengirim utusan untuk berangkat duluan ke Makkah demi meminta bantuan. Mendengar bahwa umat Islam akan menyerang kafilah Abu Sufyan, kaum Quraisy Makkah menjadi berang. Rencana penyergapan oleh pasukan muslim Madinah itu dinilai menodai kehormatan kaum Quraisy. Maka itu, kabilah-kabilah di Makkah segera memasok bala tentara dengan jumlah total 1000 orang guna menghadapi pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Di antara pasukan Quraisy itu, bahkan terdapat kerabat Rasulullah SAW dari kabilah bani Hasyim, seperti paman nabi, Abbas bin Abdul Muthallib, Hakim sepupu Khadijah, dan sebagainya. Pertempuran besar dalam perang Badar sebenarnya di luar perkiraan umat Islam. Sejak awal, Nabi Muhammad SAW merencanakan pengerahan pasukan muslim buat penyergapan biasa, bukan demi perang besar. Karena itulah, pasukan Islam saat itu tidak banyak, hanya 313 orang. Tariq Ramadan dalam buku Footsteps of the Prophet Lessons from the Life of Muhammad 2014 menuliskan ketika kedua pasukan berkemah di Badar, tampak sekali perbedaan kekuatan antara tentara Quraisy dan pasukan muslim. Ketika melihat besarnya tentara Makkah berserta banyaknya persenjataan, zirah, tombak, pedang, dan alat-alat tempur yang lengkap, Nabi Muhammad SAW sempat menangis dan lalu bermunajat, dengan membaca doa“Ya Allah, jikalau rombongan yang bersamaku ini ditakdirkan untuk binasa, takkan ada seorang pun setelah aku yang akan menyembah-Mu; semua orang beriman akan meninggalkan agama nan sejati.”Setelah itu, Nabi Muhammad SAW merancang strategi perlawanan. Beliau menjejerkan tentaranya dalam formasi rapat, sekaligus memerintahkan agar sumur-sumur segera dikuasai guna memutus pasokan air ke pasukan Quraisy. Strategi lainnya adalah mengawali perang dengan pertempuran jarak jauh. Ketika pasukan Quraisy bertolak untuk menyerang, pasukan Islam tidak segera menyambutnya dengan duel fisik langsung, melainkan lebih dahulu menembakkan anak-anak panah dari kejauhan. Setelah itu, baru mereka menghunus pedang dan bertempur satu lawan satu. Dengan strategi yang rapi dan penuh perhitungan, setelah tengah hari, 50 pemimpin suku Quraisy tewas, termasuk Abu Jahal. Sementara sisanya banyak yang kabur. Di sisi lain, korban dari kubu pasukan muslim hanya 14 akhir perang Badar, selain berhasil memukul mundur 1000 tentara dari Quraisy, pasukan muslim pun mengambil rampasan 600 pesenjataan lengkap, 700 unta, 300 kuda, serta peniagaan kafilah Abu Sufyan. Pertempuran Badar diriwayatkan tidak berlangsung lama. Diperkirakan hanya butuh waktu sekitar dua jam bagi pasukan muslim untuk memporak-porandakan pertahanan bala tentara Quraisy, dan memanfaatkan kekacauan tersebut untuk memenangkan perang. Sekembalinya dari Badar, dalam perjalanan pulang, Nabi Muhammad SAW mengucapkan hadis yang sangat penting, yaitu "Kita baru kembali dari Jihad Kecil peperangan Badar dan menuju Jihad Besar."Para sahabat keheranan. Perang Badar yang sangat menentukan nasib umat Islam hanya dianggap oleh Rasulullah SAW sebagai Jihad Kecil. Menanggapi hal itu, sahabat pun bertanya “Apakah jihad yang lebih besar itu, Wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Jihad melawan hawa nafsu.”Menundukkan hawa nafsu adalah hakikat dari jihad yang sebenarnya. Oleh karena itu, salah satu hikmah perang Badar di bulan Ramadan adalah ketegaran berjihad melawan hawa nafsu sendiri. Kendati demikian, sebenarnya saat terjadi perang Badar, ada rukhsah atau keringanan bagi umat Islam untuk tidak berpuasa. Hal ini disampaikan oleh Abu Sa'id Al-Khudri dalam hadis berikut "Kami berperang bersama Rasulullah SAW ... di antara kami ada yang berpuasa, ada pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa,” Ibnu Mulaqqin.Baca juga Perang Badar Kemenangan Besar Kaum Muslim di Bulan Ramadan Ramadan ala Rasulullah Kala Perang Badar dan Pembebasan Makkah Sejarah Perang Badar dan Kejelian Politik Nabi Muhammad Perang Badar dan Jihad Akbar Mengubah Tatanan Sosial di Madinah - Sosial Budaya Kontributor Abdul HadiPenulis Abdul HadiEditor Addi M Idhom

ahadun ahad perang badar